≡ Menu

6 Kendala Akreditasi Puskesmas dan solusinya

6 Kendala Akreditasi Puskesmas dan solusinya

Sejak pertama kali di tunjuk sebagai salah satu tim pendamping ( tim pendamping UKM ) saya telah memikirkan beberapa kendala konvensional dalam pelaksanaan akreditasi puskesmas di wilayah kerja saya. Ini tercermin dalam beberapa kali diskusi saya dengan teman sekantor dan beberapa orang kepala Puskesmas. Kendala yang paling dominan adalah dalam hal keuangan. Beberapa pertanyaan sempat terlintas misalnya , darimana anggaran perlengkapan akreditasi puskesmas ? dan berapa besar anggaran tersebut ?

2 pertanyaan di atas sepertinya selalu diutarakan teman – teman puskesmas dalam konteks akreditasi puskesmas. Nah, di bawah ini ada 6 kendala dalam penerapan akreditasi puskesmas yang saya rangkum dalam berbagai diskusi. Silahkan disimak.

  1. Keuangan dan anggran. Ini kendala yang mendasar yang selalu di utarakan oleh teman-teman puskesmas. Misalnya, biaya ATK untuk print out SOP dan dokumen .Tidak ada anggaran untuk mempercantik puskesmas (membuat bingkai SOP, membuat bingkai Motto, makan minum rapat dan lain sebagainya ).Solusi : sebagian anggaran dapat di gunakan anggaran kapitasi, anggaran BOK dan anggaran dari APBD kabupaten yang sudah di persiapkan sebelumnya. Boleh juga menggunakan anggaran CSR sesuai ketentuan yang berlaku.
  1. Sulit mencari tokoh kunci. Tokoh kunci yang dimaksud adalah sebagai ketua tim mutu dan ketua masing-masing pokja. Di beberapa puskesmas saya jumpai di pilih yang senior tetapi di tengah perjalanan beberapa darinya mengundurkan diri. Jadi sebaiknya dipilih yang benar-benar mau bekerja dan memiliki daya pacu kerja yang menguasai seluk beluk manajemen puskesmas.Solusi : bisa di pilih dokter puskesmas atau tenaga kesehatan lainnya.
  1. Minim motivasi dan dukungan. Selayang pandang dari akreditasi puskesmas adalah menambah beban kerja. Ini di anggap sebagai “ nambah kerjaan “ tetapi sebetulnya sudah waktunya puskesmas menambah kapabilitas, profesionalisme,  memiliki sistem kerja yang baik, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Nah, peran motivasi dari pimpinanlah yang mestinya memberikan dukungan moril kepada seluruh pegawai puskesmas. Tidak mesti dalam bentuk ceramah, bisa juga dalam bentuk reward yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas.
  1. Bersikap apatis. Sikap ini tentunya sering kita jumpai di puskesmas. Sikap acuh tak acuh saat mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Tetapi tidak semua staf yang bersikap begini. Telaah dan saring staf-staf yang apatis terhadap perubahan.
  1. Tidak disiplin. Ini sepertinya sudah menjadi bagian dari karakter setiap manusia. Ada yang disiplin ada juga yang tidak disiplin. Apalagi soal jam kerja. Solusinya adalah melakukan perubahan terhadap sistem absensi dan penerapan buku kerja serta membagi tugas-tugas terhadap masing-masing staf puskesmas sehingga jelas tugas dan fungsinya.
  1. Malas membaca. Dalam konteks akreditasi, banyak membaca tentunya mejadi sarana gerbang ilmu dalam menambah wawasan guna menyelesaikan elemen penilaian yang ada. Puskesmas dapat membuat pepustakaan mini dalam menambah wawasan staf puskesmas dan fasilitas Wifi.

6 hal di atas adalah berbagai macam kendala yang sering saya jumpai pada saat pendampingan akreditasi puskesmas. Tentunya kendala-kendala tersebut bervariasi pada masing-masing puskesmas.

 

SOP Akreditasi

  • pertanyaan surveyor akreditasi puskesmas
  • pertanyaan seputar akreditasi puskesmas
  • pertanyaan akreditasi puskesmas
  • pertanyaan seputar puskesmas
  • pertanyaan tentang akreditasi puskesmas

About the author: Muhammad Putra Kusuma, Pegawai Dinkes Kab. Bangka Barat. Mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia, Epidemiologi Komunitas

Show Buttons
Hide Buttons